Pengembang Properti Fokus Segmen Menengah Atas untuk Pacu Marketing Sales 2026

Senin, 09 Maret 2026 | 12:36:51 WIB
Pengembang Properti Fokus Segmen Menengah Atas untuk Pacu Marketing Sales 2026

JAKARTA - Pasar properti pada 2026 diperkirakan akan diwarnai strategi baru dari sejumlah pengembang besar di Indonesia. 

Di tengah dinamika ekonomi dan tantangan daya beli masyarakat, para pelaku industri properti mulai mengarahkan perhatian mereka pada produk dengan harga yang lebih tinggi, khususnya di segmen menengah atas hingga premium. Strategi ini diyakini dapat menjaga stabilitas penjualan prapenjualan atau marketing sales sepanjang tahun depan.

Langkah tersebut dipandang sebagai salah satu cara untuk menjaga pertumbuhan kinerja perusahaan properti. Dengan menyasar konsumen yang memiliki daya beli lebih kuat, pengembang diharapkan dapat mempertahankan tingkat penjualan yang stabil meskipun kondisi pasar masih berfluktuasi.

Analis Indo Premier Sekuritas Halima Yefany dan Aurelia Barus menjelaskan bahwa sejumlah pengembang mulai mengandalkan proyek dengan harga lebih tinggi untuk menjaga pertumbuhan penjualan. “Untuk sepanjang 2026, kami melihat para pengembang akan lebih fokus pada produk segmen menengah atas hingga premium guna menopang penjualan presales,” jelas mereka dalam laporan Indo Premier Sekuritas.

Strategi ini juga mencerminkan pergeseran fokus di industri properti, di mana pengembang mencoba menyeimbangkan portofolio proyek mereka dengan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan potensi margin yang lebih baik.

Strategi Pengembang Menggenjot Presales

Fokus pada segmen menengah atas hingga premium dinilai menjadi strategi penting untuk mempertahankan performa marketing sales pada 2026. Pengembang properti melihat bahwa segmen ini relatif lebih tahan terhadap tekanan ekonomi dibandingkan segmen yang lebih sensitif terhadap perubahan daya beli.

Dengan meluncurkan proyek-proyek baru di kategori harga yang lebih tinggi, perusahaan properti berharap dapat menarik minat konsumen yang memiliki kemampuan finansial lebih kuat. Selain itu, segmen ini juga dianggap memiliki permintaan yang cukup stabil dalam beberapa tahun terakhir.

Para pengembang juga memanfaatkan berbagai strategi pemasaran untuk memperkuat penjualan presales. Mulai dari peluncuran proyek baru, pengembangan kawasan terpadu, hingga kerja sama dengan mitra strategis untuk meningkatkan daya tarik proyek yang ditawarkan kepada konsumen.

Pendekatan tersebut diyakini mampu membantu perusahaan properti menjaga kinerja penjualan di tengah tantangan pasar yang masih dinamis.

Target Prapenjualan Bumi Serpong Damai

Salah satu pengembang yang menyiapkan strategi tersebut adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE). Perusahaan ini menargetkan prapenjualan sekitar Rp10 triliun pada 2026 atau relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.

Para analis Indo Premier menyebutkan bahwa target tersebut akan ditopang oleh sejumlah proyek yang berada di kawasan BSD City. Kawasan ini selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu proyek andalan perusahaan dalam mendukung penjualan properti.

Salah satu proyek yang akan diluncurkan adalah Nava Park II yang diperkirakan memiliki target penjualan sekitar Rp1 triliun. Proyek ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk terus memperkuat portofolio produk di segmen menengah atas.

Selain itu, perusahaan juga menargetkan penjualan lahan dari fase kedua kerja sama joint venture dengan Astra Land, lini bisnis properti dari Astra International Tbk. Penjualan lahan tersebut diproyeksikan mencapai Rp1,5 triliun.

“...serta penjualan lahan Rp1,5 triliun dari fase kedua kerja sama JV [joint venture] dengan Astra Land (lini bisnis properti dari ASII),” jelas mereka.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu pendorong utama pencapaian target prapenjualan perusahaan pada tahun depan.

Pakuwon Jati Bidik Pertumbuhan Penjualan

Pengembang lain yang juga menyiapkan strategi untuk meningkatkan marketing sales adalah PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON). Perusahaan ini menargetkan prapenjualan sebesar Rp1,5 triliun pada 2026.

Target tersebut menunjukkan optimisme perusahaan terhadap prospek pasar properti, karena mencerminkan pertumbuhan sekitar 15 persen secara tahunan atau year-on-year.

Pencapaian target ini akan didukung oleh peluncuran lanjutan proyek apartemen di kawasan Kota Kasablanka. Proyek tersebut dinilai memiliki potensi penjualan yang cukup besar dan dapat menjadi salah satu sumber kontribusi bagi marketing sales perusahaan.

Para analis memperkirakan bahwa peluncuran proyek apartemen tersebut berpotensi menghasilkan penjualan antara Rp200 miliar hingga Rp300 miliar.

Dengan memanfaatkan proyek-proyek strategis di kawasan perkotaan, Pakuwon Jati berharap dapat mempertahankan momentum pertumbuhan bisnisnya pada 2026.

Summarecon Lanjutkan Strategi Segmen Premium

Sementara itu, PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) hingga saat ini belum merilis panduan resmi terkait target bisnis pada 2026. Meski demikian, perusahaan disebutkan berencana melanjutkan strategi yang telah diterapkan pada 2025.

Strategi tersebut berfokus pada peningkatan peluncuran produk di segmen menengah atas hingga premium. Segmen ini dinilai masih memiliki permintaan yang relatif kuat sehingga berpotensi mendukung kinerja penjualan perusahaan.

“SMRA [PT Summarecon Agung Tbk.] belum merilis panduan resmi untuk 2026, tetapi berencana melanjutkan strategi 2025 dengan memperbanyak peluncuran produk segmen menengah atas hingga premium, di mana permintaan dinilai masih relatif kuat,” jelas mereka.

Dengan memperbanyak proyek di segmen tersebut, Summarecon diharapkan dapat memanfaatkan peluang pasar yang masih terbuka di kalangan konsumen kelas menengah atas.

Secara keseluruhan, langkah para pengembang untuk memprioritaskan produk dengan harga lebih tinggi menunjukkan adanya penyesuaian strategi bisnis menghadapi kondisi pasar. Segmen menengah atas hingga premium dinilai mampu memberikan stabilitas penjualan sekaligus menjaga kinerja marketing sales di tengah dinamika industri properti.

Terkini